Thursday, 23 October 2014

DAILOG BERSAMA JIN





Bismillah...
Pertama-tama mari kita kembalikan segala permasalahan dan persoalan kepada Allah Ta'ala yg telah menurunkan Al-Qur'an sbg peringatan bagi siapa saja yg takut kepada-Nya.. kemudian kita rujuk pula kepada As-Sunnah An-Nabawiyyah Al-Muthahharah sbgai bayan atas sumber utama hukum islam....
Jika pada tulisan saya ini ada yg tdk cocok bahkan menyimpang dari Al-Quran dan As-Sunnah maka tinggalkanlah,,,, jika berkaitan maka ambillah...
Dalam dunia ruqyah syar'iyyah seringkali kita dihadapkan dgn beberapa permasalahan yg ada... termasuk di dalamnya permasalahan ttg berdialog dgn jin pada saat prosesi ruqyah berlangsung...
Maka hal ini setidaknya ada 3 point bahasan yg perlu kita bahas...
PERTAMA :
"Apa dalil yg menunjukkan bahwa jin bisa berbicara melalui lisan orang yg dirasukinya ?"
Jawabannya bahwa dalil yg menunjukkan adanya pembicaraan jin dari lisan orang yg kerasukan ada dua macam...
Yaitu dalil 'aam (umum) dan dalil khaash (khusus)...
Dalil 'Aam (secara umum):
Ada banyak hadits2 yg menunjukkan bahwa setan berjalan di aliran darah anak cucu Adam, di hadits lain disebutkan bahwa ia bermalam di lubang hidung manusia, ada juga yg menyebutkan bahwa setan mengencingi telinga orang yg bangun kesiangan, disebutkan pula bahwa setan bisa masuk ke dalam mulut orang yg sedang menguap, dan setan jg bisa menimbulkan was2 dalam hati....
Yg kesemuanya itu menunjukkan bahwa setan mempunyai peran dan kedudukan di badan manusia...
Sedangkan dalil khaash (secara khusus) :
Telah datang bukti yg mengatakan bahwasannya setan bisa menguasai dan menggunakan salah satu anggota tubuh manusia,,,,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
لا يشير أحدكم علي أخيه بالسلاح، فإنه لا يدري لعل شيطان ينزع في يده، فيقع في حفرة من النار
"Janganlah salah seorang diantara kalian mengacungkan senjatanya kpd saudaranya, karena ia tdk tau jangan2 setan akan menggelincirkan tangannya sehingga ia akan masuk ke dalam jurang neraka..."
(HR.Bukhari no.7072 dan Muslim no.2617)
Apabila setan bisa menguasai tangan seseorang hingga ia mengayunkan pedangnya ke arah saudaranya sedangkan ia tdk menginginkan hal tsb, maka demikian pula setan menguasai lisan orang yg dirasukinya, berbicara seenaknya sendiri walau orang yg dirasuki tidak menginginkan berbicara spt apa yg dibicarakan setan....
Maka jika ditinjau dari dalil di atas kita semua bisa mengambil kesimpulan bahwa jin/setan bisa berbicara di saat ia sedang merasuki manusia... bahkan di zaman ini jin juga bisa menguasai tangan dan jari manusia sehingga bisa ber-sms ria dan meneror para peruqyah melalui inbox FB... Sungguh aneh tp nyata 
KEDUA :
"Bagaimana hukum berdialog dengan jin di saat ruqyah ???"
Jawabannya adalah BOLEH... TAPI..................... kita berdialog dgn mereka bukan utk dipercayai sesudahnya sehingga bertanya dgn pertanyaan yg tdk penting dan pertanyaan yg bahkan menjurus pada rusaknya aqidah diri sendiri....
Spt contoh bertanya dan meyakini bahwa yg merasuki itu adalah ruh orang meninggal... maka hal itu jelas amat sangat dilarang...
Atau dgn mengorek informasi tempat angker dari jin yg ia tangkap... ataupun malah meminta jin utk membantunya dlm proses pengobatan....
Adapun jika menanyai utk mengambil pelajaran dari kasus yg ditangani, maka hal itu tdk mengapa... spt contoh kasus hafidzah yg dirasuki setan krn minum sambil berdiri dan menggunakan tangan kiri...
Atau kasus yg ditulis syaikh Wahid Abdussalam Bali dalam kitab beliau ttg orang yg kerasukan jin dari laut merah krn suka ngobatin orang tp dirinya sendiri jauh dari Al-Qur'an, dsb....
KETIGA :
"Kesalahan-kesalahan fatal saat berdialog dengan jin"
1.Mempercayai segala apa yg dikatakan oleh jin sehingga menyebar luaskannya dan menjadikan rujukan utama bagi dirinya...
Hal ini bertentangan keras dari hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam yg ma'shum... beliau bersabda bahwasannya jin itu "KADZUB" (dgn shighah al-mubalaghah) yg berarti amat sangat gemar berdusta dan menipu...
Dan mereka2 yg membenarkan 100 % perkataan jin sama saja menolak hadits yg drajatnya shahih ini dgn lisan dan perbuatan mereka....
Slain itu,, mereka jg menentang firman Allah Ta'ala yg memerintahkan kita utk memperjelas dan meneliti suatu perkataan yg datang kpd kita yg kita sendiri tdk tau ttg kebenarannya....
"Wahai orang2 yg beriman apabila seorang yg fasik datang kpd kalian dgn suatu berita, maka bertabayunlah..." (Al Hujurat : 6)
Pengertian "Fasik" adalah :
كل خارج من حدود الشرع بعد إقراره به
"Kullu khaarijin min hududi asy-Syar'i ba'da iqroorihi bihi"
(Setiap orang yg keluar dari batas2 syariat setelah ia mengikrarkannya)
Maka apakah ini bukan sifat dari setiap jin yg masuk ke dalam tubuh manusia, yg telah memusuhi manusia, yg telah melecehkan kehormatan manusia, dan menghalanginya dari jalan Allah ???
Maka bagaimana pula kita bisa langsung mempercayai perkataan mereka bahkan mengambilnya sbg landasan hujjah sdangkan mereka yg merasuk itu diantara dua keadaan (antara kafir atau fasik) ?!
2.Mengadakan dialog jin supaya dirinya dianggap hebat, agar dirinya terkenal, dan akhirnya dianggap sbg "penakluk" jin....
3.Dialog jin saat ruqyah juga sangat sering membuat emosi peruqyah menjadi tersulut lalu kemudian berkata-kata dgn perkataan kasar dan tidak baik....
4.Diantara orang2 pesimis nntinya akan menjadikan dialog tsb sebagai peluntur semangatnya dan menyandarkan kegagalannya terhadap masalah yg ia hadapi, bukannya malah bangkit dan kembali optimis
5.Dampak malu yg akan diterima pasien karena berkata yg tdk wajar saat diruqyah
6.Beberapa peruqyah ada yg membuka pintu fitnah bagi dirinya dgn percakapan tsb, spt contoh meminta jin supaya jd pasukannya utk menggempur jin lain, menanyakan dmn istana iblis, menanyakan dmn dajjal skrng brada, dsb....
Jadi kesimpulannya boleh kita berdialog dgn "mereka" namun dgn tidak bersikap lebay.... karena mereka bisa jauh lebih lebay dari kita 
Wallahu a'lam bish shawwaab wa ilaihi al-Marji' wal ma'aab......

Wednesday, 22 October 2014

IFRIT YANG BERTAUBAT


Jangan di percayai itu jin karena dia dusta

Tadi Pagi Kedatangan Seorang Wanita Yang Mengeluhkan Sakit pada Bagian Kepalanya dan Yang lebih sakit lagi adalah JODOH yang tak Kunjung Menghampiri  ,
Dari Anamnesa Fulanah Terjangkit JIN TURUNAN & Terkena SIHIR PENGHALANG JODOH.
Setelah di ajak Bertobat Pasien Mulai Dibacakan Ayat Ayat Pembatal Sihir QS.7 : 117/112 , QS. 10:79-82 ,QS. 2 :102 Secara berulang Kemudian di sambung dngan QS. 59 :21 dengan niat menyiksa JIN ZOLIM yang bersemayam Di tubuhnya , Sembari Menyayat nyayat pada bagian perut tanpa menyentuhnya.
JIN MULAI MENGERAM KESAKITAN , MENJERIT TIDAK KARUAN..
%£$"%$£^^£^%£$"%$£^^£^%£$"%$£^^£^%£$"%$£^^£^%£$"%$£^^£^
JIN MULAI BERSUARA " DIA MILIK KU... DIA MILIKKU ". SEMBARI MENGERAM KESAKITAN.. ( Dalam Tahap ini Terkadang Jin Mencoba Menghentikan Bacaan Peruqyah agar bs memperbaiki kondisi dirinya Yang melemah akibat di bacakan Ayat Ruqyah dengan mengajak Peruqyah untuk berkomunikasi )
Terkadang Hal ini pun sy manfaatkan untuk memberikan sugesti Negative kepada JIN ( Menjatuhkan Mental JIN ) dan Mengajak dia Ke JALAN ALLAH Bertaubat kepadaNya Kemudian dengan Mudahnya Ia Keluar Setelah BERTOBAT KEPADA ALLAH dengan membawa Seluruh Pasukannya..
JIN : Dia milikku Dia Milikku.
Saya : Dia Bukan Milikmu , Dia Milik Allah , Saya dan Kamu Pun Milik
Allah.
JIN : WAH HAH HA AHAA ( Tertawa Terbahak )
Saya : Nama Kamu siapa ? ( Boleh kenalan kah Kita ? )
JIN : WAH HAH HA AHAA ( Tertawa Terbahak )
Saya : Memohon Kepada Allah dgn suara lirih ( agar jin ini Berbicara ) Kemudian membaca QS. 36 :9 lalu meniup pada mulutnya..
Saya Tanya Kembali " SIAPA NAMA KAMU ? "
JIN : IFRIIIT .
Saya : Apa Agama Kamu ?
JIN : Menggelengkan Kepala ..
Saya : Baik Kamu tau Tugas Kamu dan Sy di ciptakan Oleh Allah ?
Tugas Kamu adalah Beribadah Kepada Allah , bukan membuat
kerusakan di Muka Bumi , Melakukan kezoliman kepada Manusia.
Jika Kamu bertobat Itu lebih baik bagimu dr pada kamu binasa
dengan Ayat Allah , Coba kamu dengar Apa yang saya Baca (
saya membacakan QS. 3 :19 ) , bagaimana Rasanya ?
JIN : Mengeram kesakitan dan berakata : PAANAAAS
Saya : Kamu tidak berdaya sedikit pun , kamu lemah di hadapan Allah ,
Maka saya Peringatkan sekali lagi kepadamu , Bertobatlah kamu ,
Keluar dg baik2 atau kamu Hancur..
JIN : manggut manggut
Saya : Kamu ada berapa di dalam .. ?
JIN : ratusan.
Saya : Coba Kamu dengarkan ini ( sy bacakan Qs.96:7-8 )
JIN : Tenaaaaang.
Saya : Mau Kah ? kamu saya bimbing untuk bisa masuk Kedalam Ketenangan itu jaaaaaauh lebih dalam lagi.
JIN : MAU
Saya : Ikuti saya , Ucapkan ..( Dua kalimat syahadat )
JIN : Mengikuti ,
Saya : Ya Allah engkaulah yang memegang Nyawa Hamba.. Hamba bertobat kepadaMu , Ampuni Yaa Allah Kezoliman Hamba selama ini terhadap Manusia ini , Saya Akan keluar bersama Pasukkan saya sebagai Bukti Tobat Hamba Ya Allah..
JIN : Mengikuti ( Menangis Terisak isak ) Saya bertobat Ya Allah 2x.
Saya : Baik IFRIT coba kamu Sekarang SERU Kepada Pasukan Kamu..
untuk bertobat dan Keluar..
JIN : ££"£^^$"(&^&£^&^"(£^£&^&(^$ ( bahasa IFRIT )
Saya : IFRIT Sudah kamu berbicara kpd merka Gimana Responnya.
JIN : MAU KELUAR USTADZ.. kAMI SEMUA KELUAR.. ( membuka
Mulut Lebar Lebar)
Saya : Menepuk Bagian Belakang dan berkata UKHRUJU YA Ma'syarol
JIN..
Pasien : Tersadar dan Pulih Seperti Sedia Kala.. Allahumusta'an.

TOLAK 'BALA' DENGAN RUQYAH.








CARANYA CUKUP MUDAH .. NDAK PERLU SEMBELIH KERBAU / KAMBING / AYAM ATAU BAHKAN SE EKOR LALAT SEKALIPUN ...
Yang Ada malah Justru AQIDAH KITA LUNTUR
DAN IBADAH YANG KT LAKUKAN BS TERTOLAK DIHADAPAN ALLAH.
Bagaimana caranya? Langsung Saja :
1. Bentengi Diri Kita dengan membaca 3 Qul / Ayat Kursi pada Kedua
Tapak tangan Tiup Kemudian Usap Keseluruh Tubuh.
2. Siapkan Botol Spray yg telah disi Air dan di isi 3/5/7 cantingan Garam..
3. Pergilah menuju Sudut depan Sebelah kanan pada Gedung.
4. Kemudian Da'wahkan JIN ZOLIM yang berada pada Ruangan tersebut , tentang esensi penciptaannya, dan Kezoliman yg dilakukannya.
MEMPROGRAM BOM WAKTU....
5. Memohon kepada Allah " Yaa Allah Hamba memohon Kepada Mu Yaa
Robb ,Jadikanlah Ayat Kursi yang Hamba baca ini Menjadi Bom
Waktu bagi mereka Jin zolim Yang Mencoba Mengganggu Manusia
didalam Ruangan ini Yaa Robb, Yang Akan Meledak Jika menyentuh
Tubuh Tubuh mereka Yaa Robb.
6. Dekatkan Botol Spray ( penutup dalam Keadaan Terbuka ) Kemulut
Kita , Kemudian Bacakan Ayat Kursi 3/5/7 x , Setiap selesai TIup Ke
Air dan Sudut Gedung ( Ketika meniup Bayangkan Jutaan Bom
Berada dalam Air tersebut dan Jutaan BOM jatuh dari Langit
Mengelilingi GEDUNG tersebut. ) Lakukan hal Yang sama Pada Tiap
Sudut Ruang Gedung yang lain.
7. Setelah Selesai Semprotkan Air Ruqyah Tersebut ke Seluruh RUANG
GEDUNG , ( Jangan Sampai Terkena Alat Yg mengandung
LISTRIK , Nanti bisa peruqyah yang KONSLET  ).
Sembari Membaca : Ayat Kursi Atau Qs. 2 Ayat 284-286.
TESTIMONI TEKNIK INI :
1. Seorang Ibu di Maluku Yang sering melihat Penampakkan , BABI , Harimau , Ular Raksaksa berkepala dua , Singgasana JIN di Ruangan anaknya , Mendengar Suara Hiruk Pikuk di rumahnya , Hingga Sulit memejamkan Mata untuk tidur.. KINI SUDAH TIDAK MELIHAT DAN MENDENGAR SUARA SUARA ANEH KEMBALI.. DAN SUDAH BISA TIDUR LELAP.
2. KEPSEK. SMA TERKEMUKA DI BEKASI
Yang sering terjadi Kesurupan Masal di Sekolahnya, SEJAK DI RUQYAH GEDUNG SEKOLAHNYA TIDAK PERNAH TERJADI KERASUKAN MASAL KEMBALI.
3. JIN ZOLIM YANG MERASUKI SALAH SEORANG SISWI :
Ketika di Perintahkan Untuk Keluar dari Tubuh Korban.. Dia berkata :
Kamu Mau Suruh Saya Keluar Kemana ? Rumah Saya Telah Kamu HANCURKAN DAN RIBUAN TEMAN TEMAN SAYA MATI , TERKENA BOM !!
4. JIN ZOLIM YANG MERASUKI SALAH SEORANG MAHASISWI. SAAT TERJADI KERASUKAN MASAL DI KAMPUSNYA.
ketika ditanya Bagaimana Keadaan Teman Teman Kamu Di Ruang : #%#%#%.
Semuanya PADA KABUUUUUUUURRR.!!! ( Sahut JIN ZOLIM :D).
5. Salah satu Karywan di Kawasan INDUSTRI DI SUNTER.
"Sejak DI RUQYAH TEMPAT TERSEBUT , SUDAH TIDAK ADA LAGI KE ANEHAN , ATAUPUN KERASUKAN DAN KARYAWAN SEMAKIN SEMANGAT BEKERJA"..
Yang Sudah Ahli Melakukan TEKNIK INI adalah Ust. Andri NugrahaDenny Ardiansyah , Jika Teman Teman Ingin memperdalam TEKNIK INI Bisa Menghubungi Beliau.
Sebarkan.. Agar MASYARKAT KITA bisa Meninggalkan KESYIRIKAN , Pemotongan HEWAN UNTUK TOLAK BALA. .

RUQYAH dimasukkan dalam KITAB FIQIH






Ketahuilah kenapa RUQYAH dimasukkan dalam KITAB FIQIH ada bahasan Thib bukan masuk dalam bab IBADAH.
Karena dalam thib dalam hal ini ruqyah memiliki unsur TAJRIBAH (hasil penelitian) yg berkembang sesuai dengan zaman juga memiliki unsur TA'ABUDIYAH dimana ada batasan syar'i (tidak syirik).
Kenapa thib ruqyah masuk dalam bab Fiqih bukan IBADAH sebab ada ruang untuk injtihad dan penelitian itulah mengapa timbul beragam tehnik pengobatan ruqyah. Sedangkan Jika masuk dalam bab ibadah maka wajib 100% menghilangkan inovasi sebab jatuhnya nanti bid'ah bahkan sesat.
Resikonya thib ruqyah dimasukkan ulama pada kitab FIQIH maka sampe KIAMAT pasti ada perbedaan pendapat juga pro dan kontra.
Jika ada yg Tidak setuju dengan salah satu tehnik hendaknya menghargai orang yg melakukannya sebab mereka juga punya dalil.
Yang ga boleh itu adalah berpecah belah dan saling bermusuhan karena hanya perbedaan pendapat dalam tehnik ruqyah dari hasil tajribah yg ada sandaran ilmiyah dan syar'iyyah juga.
Saya melihat sekarang ini ada perpecahan dikalangan peruqyah bahkan ada peruqyah akhwat mau mengundurkan diri dari dunia ruqyah hasil tahdziran salah satu ustadz yg katanya seorang peruqyah itu harus menguasai beragam disiplin ilmu syar'i yang berat berat bahasannya.

MERUQYAH PENDERITA MYOTONIA



Sudah 15 tahun lamanya Mr. X , mengalami Penyakit ini , hidup serasa tak hidup karena terdapat kekurangan pada dirinya dalam menjalani hidup ini , tidak seperti manusia normal adanya..
Sudah Puluhan Rumah sakit di datangi , bahkan pernah terjebak kedalam Perdukunan Berkedok Pengobatan Al Ternatif , Gak Tanggung Tanggung ia telah Menggelontorkan Ratusan Juta Untuk Mengobati Penyakitnya ini..
Di tambah Sakit KePala Tujuh Keliling Yang Tak Kunjung Hilang, Semakin kian memperparah penyakit yang dideritanya..
Kemarin dia datang bersama ISTRInya ,yg juga sebagai DRIVERnya  ke MARKAZ KCR Kab. Bekasi.
Setelah di Berikan Penjelasan TENTANG RUQYAH SYAR"IYYAH , dan Diberikan PSIKOTERAPI RUQYAH , bertambah Yakinlah ia akan Pengobatan ILahiyah ini , seraya Bertobat meneteskan AIR MATA Penyesalan atas KEMAKSIATAN yang Dahulu di lakukan..
Kemudian PASIEN sy berdirikan dan sy gunakan Teknik Jari TAUHID belum selesai membaca Al fatihah beliau Langsung TERJATUH , dalam keadaan berbaring , kemudian saya sentuh ubun ubunnya dengan telapak tangan kiri dan di dada bagian kiri dengan tangan kanan , Alunan Syahdu Ayat Ayat Allah berkumandang Mengalir dalam setiap darah Insan Yang Khusyu mendamba Kesembuhan.. Menghantam secara Pasti Penyakit Myotonia dan JIN Zolim yang mungkin bersemayam di tubuhnya..
Detoksifikasi Mulai TERLIHAT , Tubuh Pasien MULAI bergetar hebat.. Di barengi keluarnya tetesan air mata , saya mulai Merespon CEPAT REKASI PASIEN ini dengan menekan titik SPOT tempat BERSEMAYAM NYA JIN ZOLIM ,
Mau KELUAR GAK KAMU .. Sembari menekan PERSEMBUNYIANNYA ?
JIN : MANGGUT MANGGUT SEMBARI MENANGIS .
Saya : Zolim Kamu sudah Berapa Lama Kezoliman Kamu ini .. ?
Saya Sampaikan YAH .. TIDAK AKAN MUNGKIN MENANG
KEZOLIMAN KAMU MELAWAN AYAT ALLAH.. SEKARANG
KELUAR .. BACA SYAHADAT
JIN : ASYHADU ALLA ILAHA ILLAWLOH WA ASYHADU ANNA
MUHAMMADARROSULUWLOH.
Saya : Menarik JIN TERSEBUT KELUAR DENGAN ISYAROH
TANGAN..........
Pasien : Tersedar.
Bagaimana Pa Tadi , Tanya saya Kepada Pasien ?
Pasien : Tadi Saya Kenapa Pa Ustadz... ?
Saya : Proses DETOK saja pa.., Sekarang gimana keadaan Bapak ?
Pasein : Alhamdulillah ustadz.. Kepala tadi sebelum di RUQYAH Berat , dan nyeri seperti mau kambuh lagi.. Alhamdulillah sudah hilang.
Saya : Coba gerakkan tangan Bapa Perlahan..
Pasein : menggerakkan tangannya.. ( alhamduliilah ustadz. sudah mulai bisa merespon otot ototnya )
Alhamdulillah dengan RUQYAH SYAR'IYYAH PASIEN PENDERITA MYOTONIA . dapat di sembuhkan BI IDZNILLAH..
Barokallahufiekum.

KELAINAN FISIK DAN MENTAL WARIA DAN TOMBOY





Kelainan Fisik dan mental pada waria dapat diakibatkan karena adanya Mutasi Gen Secara medis, ada hormon yang menyebabkan pria berperilaku seperti wanita dan merasa lebih nyaman dengan tingkah seperti itu. Mutasi gen ini akan menyebabkan kelainan gen pada pria bersangkutan, misalnya model gen XXY, gen wanita (X) lebih dominan. Maka, pria tersebut akan mengalami kelainan yang mencolok pada bagian tubuhnya. Misalnya, tumbuh payudara seperti perempuan.
Begitu juga dengan wanita yang berprilaku seperti pria bisa diakibatkan mutai gen ( Y ) lebih dominan hingga memiliki kelainan mencolok pada dirinya seperti memiliki jakun atau tidak ada pertumbuhan payudara.
Ciri Fisik dan psikologis nya jika laki-laki :
1. Berprilaku kemayu layaknya wanita (jalan lenggak lenggok, centil, genit dll)
2. Menyukai semua hobi wanita (berhias, memakai baju wanita)
3. Tidak memiliki hasrat seksual terhadap wanita namun bernafsu terhadap laki-laki.
Ciri Fisik dan psikologis nya jika Wanita :
1. Berprilaku jantan layaknya laki-laki
2. Menyukai semua Hobi laki-laki
3. Tidak memiliki hasrat seksual terhadap laki-laki namun bernafsu terhadap wanita.
Pengaruh genetika ini dalam dunia kedokteran TIDAK ADA OBATNYA ! Inilah pengaruh Internal mengapa pria bisa menjadi waria dan wanita bisa menjadi tomboy.
Adapun Pengaruh lainnya seperti akibat Sihir, Traumatis, Faktor lingkungan, Faktor ekonomi dan didikan orang tua masih bisa untuk diterapi hingga menjadi normal kembali baik pria atau wanita kembali menjadi fitrahnya.
Terapi Ruqyah jika ingin mengobati waria atau tomboy dengan faktor genetika, HARUS mampu untuk memperbaiki susunan genetika yang mengalami mutasi. Untuk meneliti perubahan gen menjadi normal setelah diruqyah tidak dapat dilakukan kecuali harus melibatkan laboratorium yang canggih.
Adapun Jika terapi ruqyah untuk mengobati gangguan psikologis menjadi waria atau tomboy akibat Sihir, Traumatis, Faktor lingkungan, Faktor ekonomi dan didikan orang tua kami para praktisi ruqyah sudah sangat sering menerapinya dengan tingkat kesembuhan yang tinggi.
Daerah yang penting untuk disentuh dalam terapi ruqyah adalah dada dan ubun-ubun pasien karena didada pasien terletak qalbu dimana jika energi ruqyah bisa membersihkan qalbu pasien dari emosi negatif (keinginan menjadi waria atau tomboy) pasien akan sembuh, juga ubun-ubun adalah merupakan penanggungjawab atas pertimbangan-pertimbangan tertinggi dan pengarah perilaku manusia yang harus dibersihkan dari energi negatif penyebab prilaku menyimpang dengan energi ruqyah.
Wallahu A'lam.

Kisah mistis ruqyah







Saya baru saja selesai meruqyah pasien pria yang kena penyakit aneh, sudah sakit 1,5 tahun dengan gejala kaki kiri dari pangkal paha sampai telapak kaki membengkak sangat besar dengan rasa sangat panas lalu ada cairan kuning keluar jika pecah, hampir setiap bulan mengalaminya sampe beberapa kali, setelah pecah bengkaknya dan keluar cairan kuning sembuh namun beberapa minggu kumat lagi berulang selama 1, 5 tahun.
Sudah kedokter tidak terdeketsi penyakitnya. Kedukun sudah puluhan kali.
Alhamdulillah ada keluarganya yg kenal dengan saya lalu mereka minta agar meruqyah saudaranya ini.
Saya lalu datang kerumahnya dan saya lihat kondisinya mengenaskan kakinya rusak dan hancur pahanya. Dan ternyata pasien juga habis jatuh motor hingga patah kakinya dan walau sudah kesangkal putung sambungan tulang masih tidak sempurna.
Setelah diagnosa penyakit dan sesi konsultasi saya meminta pasien dzikir istighfar 100x meminta ampun kepada Allah.
Saya lalu meruqyahnya dengan melakukan tehnik healing touch menempelkan tangan kiri dan kanan kekaki kirinya yang sakit.
Selama meruqyah bulu kuduk saya beberapa kali merinding.
setelah sekira 10 menit membaca ayat ruqyah dengan keras sembari setiap selesai 1 surat dihembuskan hawa udara dari mulut saya ke seluruh kakinya, tiba tiba pasien mengeluh "aduh kaki saya kesemutan sekali diseluruh telapak kaki" saya lalu memblokir pergerakan penyakit yg sudah terdesak ketelapak kaki sampai sebatas mata kaki dengan menggoreskan jari telunjuk mengitari pergelangan kaki dengan membaca "Yasin, kaf ha ya ain sin qof" beberapa putaran dengan niat menguncinya agar ga bisa lagi kabur kemana mana. 

Saya sudah yakin sensasi kesemutan dan rasa menebal di telapak kakinya ini adalah sekelompok jin sihir yang sudah terdesak. Lalu saya membentak jinnya "keluar kalian semua atau saya hancurkan dengan senjata ayat Allah!"

MENGHADIRKAN JIN








BISMILLAH....
Pertama tama ada baiknya kita kembalikan segala permasalahan kpd Al-Quran dan Assunnah sbg pedoman utama hukum islam...
Jika pada tulisan ini ada yg tdk sesuai dgn alquran dan assunnah maka tinggalkanlah...namun jika berkaitan erat maka ambillah..
Beberapa waktu yg lalu saya mendapat informasi ttg adanya teknik ruqyah baru dlm menghadirkan jin pada tubuh pasien... Memang pada awal mulanya saya bertanya tanya dan cenderung mengarah kpd persangkaan bahwa itu adalah cara dukun yg menggunakan jurusnya utk memasukkan jin ke tubuh pasien atau mediatornya...
Namun ternyata teknik itu digunakan oleh salah seorang masyaikh terkenal,,, caranya dgn membacakan ayat 148 dalam surat Al-Baqoroh di juz 2...
Dalam hal ini ada 2 point bahasan yg perlu kita bahas...
Pertama :
'APAKAH BOLEH KITA MEMBACAKAN AYAT 148 SURAT ALBAQOROH UNTUK ORANG YANG TERKENA GANGGUAN JIN ?'
Jawabannya adalah BOLEH kita membacakan ayat tsb utk orang yg kena gangguan jin/kesurupan, karena jin terkadang berusaha sembunyi di dalam salah satu anggota tubuh orang yg ia rasuki dan ia tdk mau menampakkan diri melalui reaksi tubuh dan tdk juga mau keluar... Maka ayat tsb dibaca agar Allah menampakkan kehinaannya yg terlihat melalui lisan pasien ataupun melalui reaksi2 yg lain...
Ayat tsb dibacakan sbg mukhothobah terhadap jin yg SUDAH ADA di tubuh pasien, BUKAN DITUJUKAN UNTUK JIN-JIN LAIN AGAR MEREKA BISA MASUK KE DALAM TUBUH PASIEN..
(Sumber foto pertama dari kitab Ahkaamu At-Ta'aamuli ma'al Jinni Wa Aadabu Ar-Ruqo Asy-Syar'iyyah hal.105)
Kedua :
'HUKUM PEMANGGILAN JIN KE DALAM TUBUH SESEORANG'
Hal ini masih berkaitan erat dgn foto pertama dan point pertama td...
Maka, jika ayat yg dibaca ditujukan utk jin yg berada di "luar" tubuh pasien spt rajanya, ratu, atau bahkan nafs dukun yg menyihirnya, maka hal itu tdk diperbolehkan krn akan menjerumuskan pada tipuan jin yg lebih besar dan mengundang berbagai madharat yg lain, termasuk penyelewengan aqidah...
hal ini berkaitan dgn kaidah fiqhiyah :
الأصل في المضار التحريم
"Al-Ashlu Fil Madhaari At-Tahriimu"
(Hukum asal dalam perkara yg menimbulkan madharat adalah HARAM)
Maka mengundang jin "Luar" ke tubuh pasien ataupun mediator itu DILARANG/ HARAM...
Saya pernah melihat salah satu video ttg pemanggilan jin di saat ruqyah... anehnya jin yg "KATANYA" sudah keluar dan taubat kok mau2nya diundang masuk lg hanya utk memberikan kesaksian dan diliput video... maka hal itu sudah sangat menunjukkan bahwa jin itu adalah PENIPU kelas kakap dan peruqyahnya sendiri kena tipu olehnya...
Karena jin muslim yg berpegang teguh pada islam dan benar2 bertaubat tak akan mau masuk lg ke tubuh seseorang, apalagi hanya utk wawancara persaksian setelah keluar...
Jika sudah tau keluar ngapain dimasuk-masukkin lg ????
Penghadiran jin dilarang keras dalam syariat islam... karena hal tsb bisa masuk ke dalam ranah sihir...
Adapun ketika meruqyah, janganlah terlalu dikedepankan utk berbicara dgn jin... krn inti ruqyah itu bukan utk berbicara dgn jin ataupun membuat orang kesurupan, inti ruqyah adalah untuk memohon kpd Allah agar mengembalikan hati yg lalai menjadi ingat, yg tdinya condong pada kebid'ahan menjadi condong pada sunnah, yg tdinya digelapkan dgn kabut khurafat jd tersinari dgn cahaya tauhid...
Bahkan jgnlah menambah beban dgn menghadirkan jin jin lain yg tdinya belum ada di tubuh pasien dgn cara2 yg diklaim bisa menghadirkan 'mereka'...
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yg dikutip oleh Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka :
يا أيها الناس لا تتمنوا لقاء عدوكم...
"Wahai manusia .. janganlah kalian mengharap perjumpaan dgn musuh kalian..."
Lafadz "PERJUMPAAN" dalam hadits di atas adalah 'manthuq'... sedangkan 'mafhumul muwafaqah' tercakup : mengundang, bekerjasama, menghadirkan, dan yg berkaitan dengannya...
Setan sudah jelas menjadi musuh yg nyata bagi manusia... dan tipu daya mereka amat licik...
Maka berhati-hatilah dari tipu daya mereka...
Karena jelas kita sama skali tidak pernah tau jin yg mana yg sedang berbicara pada saat prosesi ruqyah berlangsung..
Dan bisa jadi jin satu berpura-pura menjadi 10 jin...
Dalam jepretan foto yg kedua dijelaskan oleh syaikh Abu Nashor Muhammad ibn Abdillah Al-Imam bahwa TIDAK DIPERBOLEHKAN MENGHADIRKAN/MENGUNDANG JIN....
KARENA PENGHADIRAN MEREKA MENYELISIHI APA YANG TELAH ALLAH WAJIBKAN UNTUK MEMOHON PERLINDUNGAN DARI MEREKA, MENJAUHI DIRI DARI MEREKA, DAN PERLAWANAN KITA TERHADAP MEREKA...
Wallahu a'lam bish shawwaab wa ilaihi al-marji' wal ma'aab...
Sokaraja, 22 Oktober 2014

DEKAT SAMA ANAK YATIM LANGSUNG REAKSI


بسم الله الرحمٰن الرحيم



Akan saya beri tahu cara / tutorial para pimirsa tran7 di manapun berada serta para pembaca tautan ini walau saya hanya bisa hafal  satu, dua ayat, karena ilmu itu wajib di amalkan dan bagikan insya Allah.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّار
Daripada ‘Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, bahawa Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat, dan ceritakanlah tentang Bani Israil tanpa perlu takut. Dan barangsiapa berbohong ke atasku dengan sengaja maka bersiaplah dia mengambil tempat duduknya di Neraka.” (Riwayat Al-Bukhari)
Penjelasan hadis:
Sampaikanlah tentangku walau satu ayat: Ayat yang dimaksudkan merangkumi kedua-dua ayat Al-Quran dan juga Hadis.
Hadis ini menunjukkan saranan supaya kita menyampaikan ilmu tidak kira banyak ataupun sedikit, asalkan ia ilmu yang dipelajari dari Al-Quran dan Sunnah maka hendaklah ia disampaikan. Dalam ertikata lain, jangan kita tahan sehingga kita mencapai maqam tertentu, atau maqam ulama mujtahidin baru kita boleh berdakwah. Itu bukan syarat.

Teh ruqyah herbal ini pada umumnya sama dengan teh yang lain tidak ada beda maka jangan ragu meminumnya ,ada yang beli sudah berbulan bulan sampai sekarang belum di minum, itu tandanya ada sesuatu yang menolak di dalam tubuhnya.

Sampainya rombongan dari tran7 datang di rumah langsung kami berangkat mencari pohon bidara, setelah satu jam kembali balik kerumah, ternyata disana sudah ada 3 pasen yang menunggu minta di diruqyah, karena acara ruqyah setelah proses pembuatan teh serta meruqyah air Zamzam, air hujan dll bersama anak yatim piatu maka pasen saya suruh nunggu di dalam rumah.

Jam 01;40 baru datang dua anak yatim piatu dan di persilahkan duduk sambl makan hidangan yang ada. baru beberapa detik kemudian sipasen minta kresek [ tas plastik ] karena maw muntah dan hoek hoeh byuuur,  saya dekati kenapa ibu ? ini cak anak yatim , anak yatim sambil bicaraya ngosngossan  begitu dia dekat langsung ini perut rasanya seperti diaduk badan panas dingin, dan merinding, saya bilang ya sudah ibu sekarang pindah dari tempat ini agak menjauh ya.

Setelah proses membuat air ruqyah bersama anak yatim piatu serta proses pembuatan teh ruqyah herbal QHI dari awal hingga akhir baru proses ruqyah, sementara anak yatim makan bersama dan serah terima berupa uang untuk kebutuhan sehari hari,                                                                                                                           Dalam proses ruqyah pun unik di mulai dari minum teh ruqyah QHI, sipasen saya sodori teh ruqyah QHI baru memegang sudah gemeteran tangannya , Ust Adam bilang kuatkan minum, minum, terus, terus , dengan gemeran si pasen meminuma dan seketika tangan gemetar mata melotot seakan akan menerkam kami, 

Setelah proses ruqyah pun si pasen sadar dan  wajahnya cerah sekali, kelanjutannya si pasen kita ajari ruqya mandiri beserta menjaga amalia sehari sehari seperti taubatan nashuka, menjaga amalan wajib maupun sunnah membaca / doa atw AlQur'an pagi sore 
,
Maaf  untuk tutorial cara pembuatan teh herbal ruqyah akan saya tulis di lain hari insya Allah                             Semua yang menyembuhkan Allah,  bukan yang peruqyah ,ataw teh ruqyah nya hati hati ada kesyirikan disini                                 

Tuesday, 21 October 2014

JARI TAUHID




Tehnik jari tauhid adalah dengan menunjuk pasien tanpa menyentuh pasien, tehnik ini sudah dibuktikan
efektifitasnya dan khasiatnya dalam terapi ruqyah, beragam jin teler dan takluk ketika menunjuk jin yang lagi
mengganggu pasien sembari membaca ayat-ayat ruqyah. Selain itu beragam penyakit sembuh dengan izin Allah dengan menunjuk lokasi sakit dengan jari telunjuk (terutama pasien akhwat yang lokasi sakitnya ditempat yang tidak mungkin disentuh).

Pada hakikatnya dalam islam isyaroh (isyarat) dengan menggunakan tangan banyak dilakukan, seperti dalam
haji/umrah Setiap berada di rukun Hajar Aswad, dianjurkan memberi Isyarah dengan mengangkat tangan
sambil membaca :

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﻠﻪ ﺃَﻛْﺒَﺮُ

                       Bismillahi Allahu Akbar  
Dengan Menyebut Nama Allah, Allah Maha Besar
 Setiap sampai di rukun Yamani, dianjurkan memberi isyarah dengan mengangkat tangan sambil membaca :

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﻠﻪ ﺃَﻛْﺒَﺮُ

Bismillahi Allahu Akbar.
    Dalam sholat menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahut awal dan akhir adalah sebagai isyarah menyiksa jin. 
     Dari Nafi’ ia berkata “Adalah Abdullah bin Umar apabila duduk dalam shalat meletakkan kedua tangannya sebelum lututnya dan berisyarat ( menggerak-gerakkan) dengan jari (telunjuknya) dan diiringi  dengan penglihatannya (kejari tersebut)” kemudian berkata, bahwa Rasulullah
bersabda “Jari telunjuk (yang digerak-gerakkan ketika shalat) ini benar-benar lebih keras (menyiksa) bagi
syetan dari pada besi.” (Hadits Hasan, Shifatus-shalah, hal.140, al-fathur rabbani IV:15 no.7210)

Kita memang tidak dapat menyiksa setan dengan memukulnya langsung sebab setan kalangan jin adalah
makhluk ghoib.namun kita bisa mementung jin dengan isyarah menggerakkan jari telunjuk sebab Rasulullah
menjelaskan akan menyiksa setan dan pukulannya lebih keras dari besi.

TEHNIK JARI TAUHID :

1. Persiapan dengan membaca 3 qul ditiupkan ditelapak tangan dan jari jemari tangan.
2. Tunjuk pasien yang lagi ketika lagi bereaksi keras dengan jari telunjuk sembari membaca ayat ruqyah
dengan niat menyiksanya atau menusuknya.
3. Untuk sakit fisik terutama pasien akhwat yang tidak mungkin disentuh, tunjuk daerah yang sakit (seperti
dada ) sembari membaca ayat ruqyah.
4. Jari telunjuk bisa juga menjadi sarana psy warr (perang mental) dengan menjatuhkan mental jin dengan
menunjuk-nunjuk mukanya
5. Jari telunjuk bisa jadi isyaroh mengarahkan penyakit agar keluar dari tubuh pasien. Selisihi cara perdukunan dalam menerapi pasien dengan tidak menggunakan telapak tangan yang digetar-getarkan
jarak jauh, tidak ada pengolahan pernapasan. Wallahu a'lam..............




‘Abdullah bin ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa
‘Abdurrazzaaq rahimahullah berkata :

عَنِ الثَّوْرِيِّ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ التَّمِيمِيِّ، قَالَ: " سُئِلَ ابْنُ عَبَّاسٍ، عَنْ تَحْرِيكِ الرَّجُلِ إِصْبَعَهُ فِي الصَّلاةِ، فَقَالَ: ذَلِكَ الإِخْلاصُ "

Dari Ats-Tsauriy, dari Abu Ishaaq, dari At-Tamiimiy, ia berkata : Ibnu ‘Abbaas pernah ditanya tentang seseorang yang menggerak-gerakkan jarinya ketika shalat, lalu ia menjawab : “Itu adalah keikhlasan” [Al-Mushannaf, no. 3244; sanadnya shahih].
‘Abdurrazzaaq mempunyai mutaabi’ dari :

1. Wakii bin Al-Jarraah rahimahullah.

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ التَّمِيمِيِّ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: " هُوَ الْإِخْلَاصُ يَعْنِي الدُّعَاءَ بِالْإِصْبَعِ "

Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari Abu Ishaaq, dari Tamiimiy, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : “Itu adalah keikhlasan” – yaitu doa dengan jari” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/484 no. 8515; sanadnya shahih].
2. ‘Abdullah bin Al-Waliid rahimahullah.

أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثنا أَبُو النَّصْرِ الْعِرَاقِيُّ، ثنا سُفْيَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ، ثنا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ، عَنْ سُفْيَانَ، فَذَكَرَهُنَّ (ورَوَاهُ الثَّوْرِيُّ فِي الْجَامِعِ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ التَّمِيمِيِّ وَهُوَ أَرْبَدَةُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: " هُوَ الإِخْلاصُ ")

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr bin Ibraahiim : Telah menceritakan kepada kami Abun-Nashr Al-‘Iraaqiy : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan bin Muhammad : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Al-Hasan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Al-Waliid, dari Sufyaan, lalu ia menyebutkannya (yaitu riwayat Ats-Tsauriy dalam Al-Jaami’, dari Abu Ishaaq, dari At-Tamiimiy – ia adalah Arbadah - , dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : “Itu adalah keikhlasan”) [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy 2/133 no. 2795; sanadnya dla’iif, karena kemajhulan Abun-Nashr Al-‘Iraaqiy dan Sufyaan bin Muhammad].
Sufyaan mempunyai mutaabi’ dari :
1. Syu’bah rahimahullah.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَاقَ يُحَدِّثُ أَنَّهُ سَمِعَ رَجُلًا مِنْ بَنِي تَمِيمٍ، قَالَ: سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ عَنْ قَوْلِ الرَّجُلِ بِإِصْبَعِهِ هَكَذَا يَعْنِي فِي الصَّلَاةِ، قَالَ: " ذَاكَ الْإِخْلَاصُ "

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ia berkata : Aku mendengar Abu Ishaaq menceritakan bahwasannya ia mendengar seorang laki-laki dari Bani Tamiim yang berkata : Aku pernah bertanya kepada Ibnu ‘Abbaas tentang doa seseorang dengan jarinya begini – yaitu dalam shalat - . Ia berkata : “Itu merupakan keikhlasan” [Diriwayatkan oleh Ahmad 5/57; sanadnya shahih].
2. Al-A’masy rahimahullah.

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ، ثنا ابْنُ فُضَيْلٍ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ الْعَيْزَارِ، قَالَ: سُئِلَ ابْنُ عَبَّاسٍ عَنِ الرَّجُلِ يَدْعُويُشِيرُ بِأُصْبُعِهِ، فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: " هُوَ الإِخْلاصُ "

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah Al-Haafidh : Telah menceritakan kepada kami Abul-‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdil-Jabbaar : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari Al-A’masy, dari Abu Ishaaq, dari Al-‘Aizaar, ia berkara : Ibnu ‘Abbaas pernah ditanya tentang seseorang yang berdoa dengan berisyarat dengan jarinya, maka ia menjawab : “Itu adalah keikhlasan” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy 2/133 no. 2794; sanadnya dla’iif, karena ‘an’anah Al-A’masy dan kelemahan Ahmad bin ‘Abdil-Jabbaar Al-‘Uthaaridiy].

Penyebutan Al-‘Aizaar dalam sanad di atas keliru, karena yang benar – wallaahu a’lam– adalah Arbadah At-Tamiimiy sebagaimana riwayat sebelumnya. Kekeliruan ini kemungkinan besar berasal dari Ahmad bin ‘Abdil-Jabbaar.
Ibnul-Mundzir rahimahullah berkata :

وَقَدْ رُوِّينَا، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ: تَحْرِيكُ الرَّجُلِ أُصْبُعَهُ فِي الصَّلاةِ، قَالَ: " ذَاكَ الإِخْلاصُ "

“Dan telah diriwayatkan kepada kami dari Ibnu ‘Abbaas, bahwasannya ia berkata : “Seseorang menggerak-gerakkan jarinya ketika shalat, itu merupakan keikhlasan” [Al-Ausath, no. 1535].

Mujaahid bin Jabr Al-Makkiy rahimahullah
‘Abdurrazzaaq rahimahullah berkata :

عَنِ الثَّوْرِيِّ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ الأَسْوَدِ، عَنْ مُجَاهِدٍ، قال: " تَحْرِيكُ الرَّجُلِ إِصْبَعَهُ فِي الصَّلاةِ مُقْمِعَةٌ لِلشَّيْطَانِ "

Dari Ats-Tsauriy, dari ‘Utsmaan bin Al-Aswad, dari Mujaahid, ia berkata : “Seseorang yang menggerak-gerakkan jarinya ketika shalat adalah alat pemukul buat setan” [Al-Mushannafno. 3245; sanadnya shahih].

Ats-Tsauriy mempunyai mutaabi’ dari Hafsh bin Ghiyaats rahimahumallah.

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ الْأَسْوَدِ، عَنْ مُجَاهِدٍ، أَنَّهُ قَالَ: " الدُّعَاءُ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِإِصْبَعٍ وَاحِدَةٍ، مَقْمَعَةٌ لِلشَّيْطَانِ "

Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyaats, dari ‘Utsmaan bin Al-Aswad, dari Mujaahid, bahwasannya ia berkata : “Berdoa dengan cara begini – dan ia berisyarat dengan satu jarinya – adalah alat pemukul buat setan” [Al-Mushannaf, 2/484].
Dibawakan juga oleh Al-Baihaqiy rahimahullah, dimana ia berkata :

وَرُوِّينَا عَنْ مُجَاهِدٍ، أَنَّهُ قَالَ: تَحْرِيكُ الرَّجُلِ أُصْبُعَهُ فِي الْجُلُوسِ فِي الصَّلاةِ مُقْمِعَةٌ لِلشَّيْطَانِ

“Dan telah diriwayatkan kepada kami dari Mujaahid, bahwasannya ia berkata : “Seseorang yang menggerak-gerakkan jarinya ketika duduk dalam shalat merupakan alat pemukul buat setan” [Al-Kubraa, 2/132].

Komentar :

Riwayat Ibnu ‘Abbaas dan Mujaahid ini menunjukkan bahwa menggerak-gerakkan jari (tahriik) saat tasyahud dalam shalat telah dilakukan oleh salaf kita. Selain itu, riwayat di atas juga memberikan faedah bahwa lafadh isyarat (dengan jari) tidaklah bertentangan dengan lafah tahriik (menggerak-gerakkan), sebab jalan-jalan riwayat di atas saling menafsirkan. Tahriik merupakan lafadh yang lebih khusus daripada isyarat.
Berikut beberapa hadits yang menjelaskan pemahaman tersebut :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، عَنْ الْمَسْعُودِيِّ، عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ، قَالَ: صَلَّى بِنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ فَلَمَّا صَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَامَ وَلَمْ يَجْلِسْ فَسَبَّحَ بِهِ مَنْ خَلْفَهُ، فَأَشَارَ إِلَيْهِمْ أَنْ قُومُوا، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ سَلَّمَ وَسَجَدَ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ وَسَلَّمَ، وَقَالَ: هَكَذَا صَنَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdirrahmaan : Telah mengkhabarkan kepada kami Yaziid bin Haaruun, dari Al-Mas’uudiy, dari Ziyaad bin ‘Alaaqah, ia berkata : Al-Mughiirah bin Syu’bah pernah shalat bersama kami. Ketika telah mendapatkan dua raka’at, ia berdiri tanpa duduk (tasyahud). Orang-orang di belakangnya mengucapkantasbih (untuk mengingatkannya). Namun ia berisyarat kepada mereka agar berdiri. Ketika menyelesaikan shalatnya, ia mengucapkan salam, lalu sujud sahwi dua raka’at, lalu salam lagi. Ia berkata : ‘Beginilah yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 333; dan ia berkata : “Hasan shahih”].
Isyarat Al-Mughiirah ini dipahami sambil menggerak-gerakkan tangannya agar orang-orang bangkit berdiri.

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ حُذَيْفَةَ، قَالَ: " رَأَيْتُنِي أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَتَمَاشَى، فَأَتَى سُبَاطَةَ قَوْمٍ خَلْفَ حَائِطٍ، فَقَامَ كَمَا يَقُومُ أَحَدُكُمْ فَبَالَ، فَانْتَبَذْتُ مِنْهُ، فَأَشَارَ إِلَيَّ فَجِئْتُهُ، فَقُمْتُ عِنْدَ عَقِبِهِ حَتَّى فَرَغَ "

Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmaan bin Abi Syaibah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Jariir, dari Manshuur, dari Abu Waail, dari Hudzaifah, ia berkata : “Aku berjalan-jalan bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau mendatangi tempat sampah suatu kaum yang ada di belakang tembok. Beliau berdiri sebagaimana berdirinya salah seorang di antara kalian, dan kemudian kencing. Lalu aku menjauh dari beliau, namun beliau berisyarat agar aku mendekat. Aku pun mendekat dan berdiri di belakang beliau hingga beliau selesai” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 225].
Isyarat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Hudzaifah ini dipahami dengan menggerak-gerakkan tangan beliau agar ia mendekat.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ أَبِي حَازِمِ بْنِ دِينَارٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ، " أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَهَبَ إِلَى بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ، فَحَانَتِ الصَّلَاةُ فَجَاءَ الْمُؤَذِّنُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ، فَقَالَ: أَتُصَلِّي لِلنَّاسِ فَأُقِيمَ، قَالَ: نَعَمْ، فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ فِي الصَّلَاةِ فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِي الصَّفِّ، فَصَفَّقَ النَّاسُ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ لَا يَلْتَفِتُ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمَّا أَكْثَرَ النَّاسُ التَّصْفِيقَ الْتَفَتَ فَرَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَشَارَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِ امْكُثْ مَكَانَكَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yuusuf, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Maalik, dari Abu Haazim bin Diinaar, dari Sahl bin Sa’d As-Saa’idiy : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pergi menemui Bani ‘Amru bin ‘Auf untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di antara mereka. Tiba lah waktu shalat. Lalu seorang muadzdzin menemui Abu Bakr dan berkata : “Apakah engkau akan mengimami shalat orang-orang sehingga aku bacakan iqamatnya ?”. Abu Bakr menjawab : “Ya”. Abu Bakr shalat. Kemudian datanglah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang waktu itu orang-orang masih dalam keadaan shalat. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bergabung masuk ke dalam shaff. Orang-orang bertepuk tangan, dan Abu Bakr tidak menoleh dalam shalatnya. Ketika banyak orang yang bertepuk tangan, maka ia pun menoleh dan melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berisyaratkepadanya agar ia tetap ada di tempatnya (sebagai imam)...” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 684].
Isyarat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas dipahami dengan menggerak-gerakkan tangannya (agar Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu ada di tempatnya).
Jika demikian, sama halnya dengan hadits tahriik yang diriwayatkan oleh Waail bin Hujr dari jalan Zaaidah bin Qudaamah rahimahullah :

أَخْبَرَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ، قَالَ: أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ زَائِدَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، أَنَّ وَائِلَ بْنَ حُجْرٍ،: قُلْتُ: لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي؟ فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ فَوَصَفَ، قَالَ: ثُمَّ قَعَدَ وَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ الْيُسْرَى، وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ الْأَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، ثُمَّ قَبَضَ اثْنَتَيْنِ مِنْ أَصَابِعِهِ وَحَلَّقَ حَلْقَةً، ثُمَّ رَفَعَ أُصْبُعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا "

Telah mengkhabarkan kepada kami kami Suwaid bin Nashr, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami ‘Abdullah bin Al-Mubaarak, dari Zaaidah bin Qudaamah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Aashim bin Kulaib, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Bahwasannya Waail bin Hujr berkata : Sungguh aku akan melihat shalat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana beliau shalat ?. Aku pun melihat beliau – lalu ia (Waail) menyifatkannya - : “Kemudian beliau duduk dengan membentangkan kaki kirinya, meletakkan telapak tangan kiri di atas paha dan lutut sebelah kiri. Lalu meletakkan siku kanannya di atas paha kanan, kemudian menggenggam dua jarinya dan membuat lingkaran, kemudian mengangkat jarinya, dan aku melihat beliaumenggerak-gerakkannya dan berdoa dengannya” [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 1268 secara ringkas dengan sanad shahih].
Diriwayatkan dari beberapa jalan yang semuanya berasal dari Zaaidah bin Qudaamahrahimahullah.

Sebagian ulama mengatakan bahwa tambahan lafadh : ‘menggerak-gerakkannya dan berdoa dengannya’ adalah tambahan yang syaadz, karena menyelisihi banyak perawi, dimana mereka semua tidak menyebutkan tambahan tersebut[1]. Secara ringkas ta’liltersebut dijawab sebagai berikut :
1. Tambahan itu dibawakan oleh Zaaidah bin Qudaamah Ats-Tsaqafiy, Abush-Shalt Al-Kuufiy (زائدة بن قدامة الثقفي ، أبو الصلت الكوفي); seorang yang tsiqah, tsabat, shaahibus-sunnah. Termasuk thabaqah ke-7, dan wafat tahun 160 H atau setelahnya. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 333 no. 1993].
Tautsiq ini termasuk jenis tautsiq dalam martabat yang tinggi dalam jarh wa ta’dil. Abu Haatim dan Al-‘Ijliy berkata : “Tsiqah, shaahibus-sunnah”. Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat dan berkata : “Termasuk di antara huffaadh yangmutqin”. Abu Zur’ah, An-Nasaa’iy, Ibnu Ma’iin, Al-Fasawiy, dan Ya’quub bin Syaibah berkata : “Tsiqah”. Abu ‘Abdillah Al-Haakim berkata : ‘Tsiqah ma’muun”. Ahmad bin Hanbal berkata : “Termasuk di antara orang-orang yang tsabt dalam hadits”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Termasuk di antara para imam yang tsabt”. Hammad bin Usaamah berkata : “Ia adalah orang yang yang paling jujur dan paling baik”. Ibnu Sa’d berkata : “Tsiqah ma’muun, shaahibus-sunnah”. Adz-Dzuhliy berkata : “Tsiqah lagihaafidh’.
Termasuk syarat diterimanya ziyaadah adalah sifat tsiqah dan dlabth yang dimiliki oleh perawi. Persyaratan ini dimiliki oleh Zaaidah.
2. Ziyaadah (tahriik) ini tidaklah bertentang dan menafikkan riwayat jumhur yang menyebutkan dengan lafadh isyarat. Dan ini telah lewat pembahasannya di atas. Ibnu Shalah telah menjelaskan pembagian jenis-jenis ziyaadats-tsiqaat ini dalam kitab‘Ulumul-Hadiits[2] hal. 77-78.
3. Jika dikatakan bahwa ziyaadah ini syaadz karena men-taqyiid kemutlakan lafadhisyarat; maka pendapat yang raajih, sifat ziyaadah seperti ini diterima. Ini adalah madzhab beberapa ulama mutaqaddimiin. Berikut contohnya :

وحَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيل بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: " طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ، إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ، أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ "

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ibraahiim, dari Hisyaam bin Hassaan, dari Muhammad bin Siiriin, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :“Sucinya bejana salah seorang di antara kalian jika dijilat anjing adalah dicuci sebanyak tujuh kali dan awalnya dengan tanah” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 279].
Muhammad bin Siiriin menyelisihi ashhaab Abu Hurairah dengan menyebutkan tambahan lafadh ‘dan awalnya dengan tanah’. Abu Daawud berkata :

وَأَمَّا أَبُو صَالِحٍ، وَأَبُو رَزِينٍ، وَالْأَعْرَجُ، وَثَابِتٌ الْأَحْنَفُ، وَهَمَّامُ بْنُ مُنَبِّهٍ، وَأَبُو السُّدِّيِّ عَبْدُ الرَّحْمَنِ، رَوَوْهُ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَلَمْ يَذْكُرُوا التُّرَابَ

“Adapun Abu Shaalih, Abu Raziin, Al-A’raj, Tsaabit Al-Ahnaf, Hammaam bin Munabbih, dan Abus-Suddiy ‘Abdurrahmaan meriwayatkan dari Abu Hurairah tanpa menyebutkan : ‘(mencucinya dengan) tanah’ [As-Sunan no. 73].
Tambahan yang dibawakan Ibnu Siiriin ini juga dishahihkan Ad-Daaruquthniy dalamSunan-nya. Tambahan ini mengkonsekuensikan pentaqyidan lafadh mutlak mencuci sebanyak tujuh kali – yaitu awalnya dengan tanah.
Contoh lain :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم " فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ "

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yuusuf : Telah mengkhabarkan kepada kami Maalik, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa : Bahwasannya Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa salam telah mewajibkan zakat fithr di bulan Ramadlaan kepada setiap orang baik yang merdeka, budak, laki-laki, ataupun perempuan dari kalangan kaum muslimin [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1504].
Maalik bin Anas meriwayatkan tambahan ‘dari kalangan kaum muslimin’ dimana ia menyelisihi ashhaab Naafi’ yang lain. At-Tirmidziy rahimahullah berkata :

وَرَوَى مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم نَحْوَ حَدِيثِ أَيُّوبَ، وَزَادَ فِيهِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَرَوَاهُ غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ نَافِعٍ، وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي هَذَا، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: إِذَا كَانَ لِلرَّجُلِ عَبِيدٌ غَيْرُ مُسْلِمِينَ لَمْ يُؤَدِّ عَنْهُمْ صَدَقَةَ الْفِطْرِ، وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ، وَالشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ، وقَالَ بَعْضُهُمْ: يُؤَدِّي عَنْهُمْ وَإِنْ كَانُوا غَيْرَ مُسْلِمِينَ، وَهُوَ قَوْلُ الثَّوْرِيِّ، وَابْنِ الْمُبَارَكِ، وَإِسْحَاق

“Dan telah diriwayatkan oleh Maalik, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam semisal hadits Ayyuub, dan ditambahan padanya lafadh : ‘minal-muslimiin (dari kalangan kaum muslimin)’. Dan telah diriwayatkan lebih dari seorang dari Naafi’ tanpa menyebutkan padanya lafadh : minal-muslimiin. Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Sebagian di antara mereka berkata : Jika seseorang memiliki budak-budak non muslim (kafir), maka tidak wajib baginya membayar zakat fithri. Ini adalah pendapat Maalik, Asy-Syaafi'iy, dan Ahmad. Dan sebagian yang lain berkata : Wajib bagi seseorang membayar zakat fithri budak-budak mereka walaupun mereka dari kalangan non muslim. Ini adalah pendapat Ats Tsauriy, Ibnul-Mubaarak, dan Ishaaq” [As-Sunan no. 676].

Perkataan At-Tirmidziy rahimahullah tersebut di atas memberikan satu faedah bahwaziyaadah lafadh ‘minal-muslimiin’ itu memberikan taqyiid atas kemutlakan perintah membayar zakat sehingga menghasilkan kesimpulan hukum tersendiri sebagaimana dijelaskan para ulama kita.

Ringkas kata, amalan tahriik ketika tasyahud dalam shalat adalah shahih ternukil dari salaf, dan juga dari sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Pembahasan tentang ziyaadatuts-tsiqaat tidaklah sesederhana yang terkemas dalam pembahasan ini. Ada perbedaan pendapat di sana, baik dari kalangan mutaqaddimiinmaupun muta’akhkhiriin, muhadditsiin maupun fuqahaa’. Di antara referensi yang dapat dibaca dalam permasalahan ini antara lain :

1. Al-Bisyaarah fii Syudzuudzi Tahriikil-Ushbu’ fit-Tasyahhud wa Tsubuutil-Isyaarah karya Abul-Mundzir Ahmad bin Sa’iid Al-Yamaaniy (taqdiim : Muqbil bin Hadiy Al-Wadii’iy).

2. Raf’ul-Malaam ‘an Man Harraka Ashba’ahu minat-Tahiyyaati ilas-Salaam, wa Ma’ahu Ar-Radd ‘alaa Risaalah : Al-Bisyaarah karya Abu Asmaa’ Al-Mishriy (taqdiim : Masyhur Hasan Salmaan & ‘Aliy Al-Halabiy).

3. Al-Aqwaalur-Raajihaat fil-Hadiits Asy-Syaadz wa Ziyaadatits-Tsiqaat karya Abu Hurairah Asy-Syaamiy Al-Atsariy (taqdiim : Majdiy bin Muhammad ‘Arafaat Al-Mishriy).

4. Ziyaadatuts-Tsiqaat wa Mauqiful-Muhadditsiin wal-Fuqahaa’ minhaa oleh Nuurullah Syaukat (desertasi S3 Univ. Ummul-Qurra’).

[1] Bisa dibaca dalam kitab Al-Bisyaarah fii Syudzuudzi Tahriikil-Ushbu’ fit-Tasyahhud wa Tsubuutil-Isyaarah karya Abul-Mundzir Ahmad bin Sa’iid Al-Yamaaniy.

[2] Melalui perantaraan kitab Ziyaadatuts-Tsiqaat wa Mauqiful-Muhadditsiin wal-Fuqahaa’ minhaa oleh Nuurullah Syaukat, 1/103-104.